Perbedaan Karakter Mahasiswa Indonesia dan Mahasiswa Luar Negeri

Seorang mahasiswa dari Martin Luther University of Halle-Wittenberg, Maya Siahaan membuat kompilasi artikel yang menggambarkan perbedaan karakter antara mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa luar negeri.
Tulisannya secara garis besar mewakili perbedaan antara karakter mahasiswa Indonesia dengan luar negeri yang sangat mencolok, berikut selengkapnya:
1. Kemampuan untuk berpikir kritis dan berani bertanya.
Sistem belajar di Indonesia yang cenderung “iya-iya” saja apa kata dosen membuat mereka tidak mampu (tidak mau) untuk melatih kemampuan analisis suatu masalah. Apapun yang utarakan dosen dianggap sudah benar, padahal belum tentu dan hal itu justru bisa menjadi bahan diskusi yang menarik.
Saya bisa rasakan sendiri ketika menjalani perkuliahan. Ada beberapa opini dosen yang ingin saya tanggapi balik namun segan karena takut jika saya dianggap seolah-olah menentang pendapat beliau.
Ketika di Luar Negeri, mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis dan tidak ragu baik untuk bertanya maupun sekedar mengutarakan pendapat. Sehingga tidak ada istilah “pertanyaan bodoh”.
Bayangkan jika para ilmuwan terdahulu tidak pernah menanyakan hal-hal bodoh seperti kenapa apel jatuh ke bawah, atau kenapa bumi berbentuk bulat(?), mungkin kita tidak akan pernah bisa merasakan kemajuan ilmu pengetahuan seperti saat ini.
Penilaian dari dosen terhadap mahasiswa juga cenderung masih subyektif sekali. Ketika ada mahasiswa yang mungkin pernah bersikap kurang etis menurut kacamata beliau, maka selamanya stigma buruk terhadap mahasiswa itu akan melekat dan siap-siap dapat C di matkul dosen tersebut.
Di Luar Negeri penilaian terhadap mahasiswa itu bersifat objektif. Makanya tidak ada larangan cara berpakaian, adanya daftar absensi, dll. Semua murni dari penilaian tugas dan ujian. Ketika saya di Jerman, bahkan sistem penilaian 100% dari nilai ujian akhir. Tugas atau seminar hanyalah sebagai prasyarat agar bisa mengikuti ujian. Bayangkan betapa beratnya ketika nilai kuliahmu selama satu semester hanya ditentukan di ujian akhir. Jika tidak lulus, harus menunggu beberapa bulan kemudian untuk Termin ujian selanjutnya atau menunggu tahun depan.
2. Sistem tugas makalah
Di sini saya ingin sedikit berkomentar mengenai banyaknya tugas makalah yang diberikan dosen sebagai tugas perkuliahan.
Tugas makalah menurut saya rasa kurang efektif dalam membuat mahasiswa berpikir kritis dan kreatif. Sebenarnya sah-sah saja dengan jenis tugas seperti ini, masalahnya ialah pada kenyataannya mahasiswa cenderung hanya mengcopy-paste materi dari internet lalu memindahkannya ke word dan jadilah makalah. Saya lebih suka dengan jenis tugas yang hanya bersifat paper, seperti menulis maksimal 3 halaman untuk menyampaikan beberapa teori dan argumen yang kita punya.
Sering saya temukan berbagai dosen dengan kualitas mengajar yang bagus cenderung lebih sering memberikan tugas dalam bentuk paper tersebut. Menurut para dosen tersebut, tugas itu tidak harus berlembar-lembar namun cukup berikan penjelasan yang tepat mengenai permasalahan yang akan dibahas, langsung to the purpose . Tidak perlu dalam bentuk makalah sampai puluhan halaman. Toh, tidak bakal dibaca juga, menurut mereka.
Di Luar Negeri, tugas berbentuk paper adalah yang paling sering diberikan. Selain sibuk dengan aktivitas mengajar, banyak kegiatan lainnya yang menunggu mereka setiap hari seperti penelitian,dll. Sehingga membaca tugas mahasiswa sampai berpuluh-puluh halaman adalah sesuatu yang tidak berfaedah.
Menurut saya, ini adalah sistem yang harus diubah dalam pendidikan kita. Mahasiswa itu harus kritis dalam banyak hal, jangan cuman pada saat demo saja, semua langsung ikut-ikutan berpikir kritis. Mari dibuktikan dalam menjalani perkuliahan sehari-hari.
Saya menulis seperti ini juga bukan berarti saya sudah jadi mahasiswa paling pintar dan kritis. Saya juga sering ikutan iya-iya saja apa kata dosen kok. Namun,saya sadar bahwa hal tersebut kurang efektif dalam membentuk karakter mahasiswanya.
Pikiran idealis saya selalu mengatakan
“Alangkah hebat Indonesia suatu saat jika generasi mudanya yaitu para mahasiswa bisa mempunyai cara berpikir yang kritis dan kreatif namun tetap disertai dengan kepribadian sopan-santun yang baik.”
Oleh karenanya, yuk mulai dari diri sendiri. Mulai dari coba berani untuk bertanya di kelas. Aktif dalam berpartisipasi ketika dosen membuka sesi bertanya. Ingat aktif loh ya, bukan caper. Mulai dari hal-hal kecil seperti ini maka saya yakin sistem pendidikan kita akan berubah menjadi lebih baik.